Skip to main content

Profil: PERJUANGAN KAPTEN TUBAGUS MULIHAT UNTUK KEMERDEKAAN INDONESIA

 

PERJUANGAN KAPTEN TUBAGUS MULIHAT

UNTUK KEMERDEKAAN INDONESIA

sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Tubagus_Muslihat

Tubagus Muslihat adalah seorang pejuang kemerdekaan Indonesia yang lahir di Pandeglang, Banten, 26 Oktober 1926. Tubagus merupakan gelar kebangsawanan suku Banten yang disematkan secara turun-temurun kepada keturunan sultan Banten dari pihak lelaki. Meskipun kelahiran Banten, tapi Muslihat mesti pindah ke Bogor untuk mengikuti Ayahnya, Tubagus Djuhanuddin yang bekerja sebagai kepala Sekolah Rakyat dipindah tugaskan daerah Bogor.

Setelah menyelesaikan pendidikannya. Pada tahun 1940, Muslihat bekerja di Bosbouw Proefstation atau Balai Penelitian Kehutanan di Gunung Batu Bogor. Dia juga pernah bekerja di Rumah Sakit Kedung Halang Bogor menjadi juru rawat. Lalu pindah lagi ke jawatan kehutanan.

Setelah kependudukan Belanda hilang di Indonesia dan digantikan oleh Jepang akibat kalah perang, Jepang pun membuat sebuah pasukan Pembela Tanah Air (PETA). Muslihat yang mengetahui hal tersebut ikut mendaftar untuk berabung dengan PETA. Selama di PETA, Muslihat memiliki kemampuan yang cukup baik, dan setelah melewati berbagai tes, dia terpilih untuk menyandang jabatan shodanco atau komandan peleton. Kemudian pada tahun 1944, Muslihat menikahi seorang gadis asal Bogor, bernama Kartinah.

Kependudukan Jepang di Indonesia tidaklah bertahan lama. Setelah Jepang menyerah tanpa syarat ke sekutu, dengan cepat pemerintah Jepang di Indonesia langsung membubarkan PETA dan memerintahkan kepada seluruh anggotanya segera meninggalkan kamp dengan seluruh persenjataannya untuk pulang ke kampong halamannya masing-masing. Namun, Muslihat dan beberapa orang lainnya tidak meninggalkan senjatanya, mereka membawa persenjataan mereka untuk berjuang mempertahankan kedaulatan Indonesia.

Pada tanggal 17 Agustus 1945, Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya dari segala bentuk penjajahan. Namun kemerdekaan Indonesia tersebut tidaklah di akui oleh sekutu, sehingga menyebabkan sekutu yang diwakili oleh tentara Inggris menyerang Indonesia. Muslihat yang telah bergabung ke Tentara Keamanan Rakyat (TKR) sebagai Kapten dan ditugaskan sebagai komandan Kompi IV Batalion II TKR berjuang sekuat tenaga untuk mempertahankan Bogor dari serangan penjajah.

Pada bulan Oktober 1945, keadaan kota Bogor semakin kacau setelah tentara sekutu mulai memasuki kota Bogor. Tempat-tempat strategis di kota Bogor mulai diambil alih oleh tentara sekutu, sampai pada puncaknya Istana Bogor yang sebelumnya dijaga ketat oleh para pejuang Indonesia berhasil diduduki oleh tentara Inggris. Keadaan tersebut menjadi titik balik para pejuang dan masyarakat Bogor untuk menyerang balik tentara sekutu. Hanya dengan bermodalkan bambu runcing, golok, pedang dan persenjataan alakadarnya, seluruh rakyat Bogor mengadakan pemberontakan besar-besaran ke tentara sekutu yang mengakibatkan pertempuran sengit.

Kapten Muslihat ikut dalam berbagai pertempuran untuk mengembalikan wilayah Bogor ke tangan Republik Indonesia. Pada 25 Desember 1945, Kapten Muslihat menemukan akhir dari perjuangannya, saat melakukan penyerangan kekantor Polisi yang terletak di jalan Banten (sekarang jalan Kapten Muslihat), Kapten Muslihat tertembak dua kali di bagian perut dan pinggangnya setelah keluar dari persembunyiannya dan melakukan serangan secara terbuka.

Kapten Muslihat memang berhasil menghabis cukup banyak tentara sekutu pada saat itu, namun akibat dua luka tembak dibagian tubuhnya, Kapten Muslihat akhirnya terjatuh dengan berlumuran darah yang membuat baju putihnya berubah menjadi merah. Kapten Muslihat tidak langsung gugur di tempat kejadian, tubuhnya yang masih bersimbah darah itu berhasil dibawa ke rumahnya yang terletak di Panaragan, Bogor.

Kapten Muslihat yang berada dikondisi kritis itu memberikan wasiat kepada istrinya untuk menyedekahkan uangnya kepada fakir miskin dan memberikan nama Tubagus Merdeka kepada anak yang sedang dikandung istrinya. Setelah wasiat tersebut, Kapten Tubagus Muslihat menemui ajalnya di usia yang masih sangat muda, yakni 19 tahun.

Atas jasa dan perjuangan Kapten Tubagus Muslihat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia, kini namanya diabadikan menjadi nama jalan utama di Kota Bogor, yakni Jalan Kapten Muslihat. Tidak hanya itu patung khusus yang menggambarkan heroiknya Kapten Muslihat saat berjuang melawan penjajah juga dibangun disana, tepatnya di Plaza Taman Topi dekat Stasiun Bogor.

Comments

Popular posts from this blog

TEPAS SALAPAN LAWANG DASAKRETA

  TEPAS SALAPAN LAWANG DASAKRETA Mengunjungi kota Bogor tak lengkap rasanya jika tidak melihat-lihat sekeliling jantung kota Bogor, yakni Istana Bogor. Sambil mengendarai mobil, motor, ataupun hanya sekedar berjalan kaki saja rasanya wilayah disekitaran Istana Bogor sudah cukup untuk memanjakan mata kita. Saat mengitari wilayah tersebut kita pasti disuguhi sebuah monumen Tugu Kujang disana. Bersebelahan dengannya terdapat sebuah monumen yang masih cukup baru bernama Tepas Salapan Lawang Dasakreta. Namun apakah kita tahu arti dari landmark tersebut? Mari kita bahas sekarang. Tepas Salapan Lawang Dasakreta diresmikan pada 7 Desember 2016, dengan maksud untuk menjadi sebuah ikon baru kota Bogor. Tepas Salapan Lawang Dasakreta merupakan bahasa Sunda yang jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia menjadi beranda yang memiliki 9 pintu. Sembilan pintu tersebut terbentuk dari topangan 10 pilar yang saling berdampingan dengan terdapat plang pada bagian atas yang membuatnya menjadi 9 p...

JURNALISME ONLINE, UJI COBA PEMBELAJARAN TATAP MUKA DI BOGOR

  UJI COBA PEMBELAJARAN TATAP MUKA DI BOGOR Pada Maret 2021, Dinas Pendidikan Kabupaten Bogor memulai uji coba pembelajaran tatap muka di tengah masa pandemic Corona. Secara keseluruhan ada 170 sekolah yang turut andil dalam uji coba tersebut. Ade Yasin, Bupati Bogor sekaligus merankap sebagai Ketua Satgas Penanganan Covid-19 Kabupaten Bogor, mengungkapkan pada awalnya ada 232 sekolah yang diusulkan untuk melakukan uji coba ini. Tetapi setelah diperiksa hanya ada 171 sekolah saja yang lolos verifikasi dan validasi, kemudian ada salah satu sekolah yang mengudurkan diri dari uji coba tersebut yang menjadikan hanya ada 170 sekolah saja yang ikut andil dalam uji coba pembelajaran tatap muka ini. Ada 29 SD Negeri, 24 MI, 28 SMP, 18 MTS, 7 MA, 32 SMA, dan 32 SMK yang turut andil dalam pelaksanaan uji coba pembelajaran tatap muka ini. Pemberlakuan uji coba ini juga sudah disetujui oleh para wali murid, ada sekitar 72-95 persen wali murid yang setuju dilaksanakannya uji coba ini. K...

HARD NEWS 1

Seorang Pria Tewas Tertabrak Commuterline di Tanah Sareal Junaedi (47), pria kelahiran Bogor tersebut tewas tertabrak KRL di Kampung Bubulak, Kelurahan Kebon Pedes, Kecamatan Tanah Sareal, Kota Bogor, Jawa Barat. Pada hari Rabu, 13 Januari 2021, tepatnya pada pukul 05.15, pria tersebut diduga tidak melihat kedatangan KRL saat akan menyebrang perlintasan KRL. Iptu Rachmat Gumilar, Kepala Urusan Humas Polresta Bogor Kota mengakui akan adanya kejadian tersebut, setelah menerima laporan langsung dari pihak KAI dan melakukan olah TKP. Korban langsung meninggal di tempat, setelah menerima hantaman yang sangat keras dari KRL. Hantaman tersebut membuat tubuhnya terpental, hingga membuat bagian kepala korban terpisah dari tubuhnya. Setelah itu, jasad Junaedi dipindahkan ke RSUD Kota Bogor untuk dilakukan visum guna kepentingan penyelidikan.